SEKILAS FILM DOKUMENTER DI DUNIA

Posted in Uncategorized on 12/15/2009 by khimawans

Sari Nakisha 15 Desember jam 17:14

Secara singkat definisi Film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan kenyataan. Istilah “dokumenter” pertama digunakan dalam resensi film Moana (1926) oleh Robert Flaherty, ditulis oleh The Moviegoer, nama samaran John Grierson, di New York Sun pada tanggal 8 Februari 1926.

Di Perancis, istilah film dokumenter digunakan untuk semua film non-fiksi, termasuk film mengenai perjalanan dan film pendidikan. Menjabarkan film dokumenter tentu tidak bisa sekilas, karena memang panjang penjelasannya. Namun bisa diawali dengan penjelasan bahwa film pertama dunia adalah film dokumenter, bukan film cerita atau film lainnya. Film – film itu adalah hal sehari-hari yang di rekam, misalnya kereta api masuk ke stasiun. Di lihat dari beberapa dekade lalu, film dokumenter pasti hitam putih, tapi sebenarnya bukan soal warna dan teknis yang membedakannya dengan film fiksi. Yang membedakannya adalah isinya. Film dokumenter menuturkan suatu peristiwa yang otentik dan apa adanya. Itu tentu berbeda dengan film fiksi yang kisah atau penuturannya merupakan suatu kreatifitas imajinatif.
Berangkat dari hal itu, pada dasarnya, film dokumenter merepresentasikan kenyataan, artinya film dokumenter berarti menampilkan kembali fakta yang ada dalam kehidupan.

Pada perkembangannya selanjutnya, muncul sebuah istilah baru yakni Dokudrama. Dokudrama adalah genre dokumenter dimana pada beberapa bagian film disutradarai atau diatur terlebih dahulu dengan perencanaan yang detail. Dokudrama atau bahasa umumnya kisah nyata (true strory), sebenarnya sebuah kisah rekonstruksi dari sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi. Perbedaan antara dokudrama dan dokumenter ada pada tujuannya. Dokudrama lebih komersil, jadi untuk diperdagangkan secara jelas. Sementara dokumenter mempunyai aspek lebih luas yaitu bisa komersil dan bisa tidak sama sekali. Dokudrama muncul sebagai solusi atas permasalahan mendasar film dokumenter, yakni untuk memfilmkan peristiwa yang sudah ataupun belum pernah terjadi.

Film dokumenter modern berkembang semakin pesat semenjak era cinema verité. Film-film termasyhur seperti The Thin Blue Line karya Errol Morris dan karya Michael Moore: Roger & Me menempatkan kontrol sutradara yang jauh lebih interpretatif. Genre film ini telah menjadi semakin sukses di bioskop-bioskop melalui film-film seperti Super Size Me, March of the Penguins dan An Inconvenient Truth.

Bila dibandingkan dengan film-film naratif dramatik, film dokumenter biasanya dibuat dengan anggaran yang jauh lebih murah. Hal ini cukup menarik bagi perusahaan-perusahaan film sebab hanya dengan rilis bioskop yang terbatas dapat menghasilkan laba yang cukup besar.
Pada kenyataannya, sukses komersial dari dokumenter-dokumenter tersebut barangkali disebabkan oleh pergeseran gaya naratif dalam dokumenter. Hal ini menimbulkan perdebatan apakah film seperti ini dapat benar-benar disebut sebagai film dokumenter; kritikus kadang menyebut film-film semacam ini sebagai mondo films atau docu-ganda Bagaimanapun juga, manipulasi penyutradaraan pada subyek-subyek dokumenter telah ada sejak era Flaherty, dan menjadi semacam endemik pada genrenya.

Dengan kemajuan teknologi dalam hal Kamera video digital modern yang ringan dan editing terkomputerisasi telah memberi sumbangan besar pada para sineas dokumenter, sebanding dengan murahnya harga peralatan. Film pertama yang dibuat dengan berbagai kemudahan fasilitas ini adalah dokumenter karya Martin Kunert dan Eric Manes: Voices of Iraq, dimana 150 buah kamera DV dikirim ke Iraq sepanjang perang dan dibagikan kepada warga Irak untuk merekam diri mereka sendiri.

Jurnalistik Televisi

Posted in Uncategorized on 12/15/2009 by khimawans

Jurnalisme televisi yang berkembang sejak tahun 40-an hingga menjelang akhir abad ini, menyimpan banyak cerita. Mulai dari semacam jurnalisme radio yang ditampilkan di bawah lampu terang dan kamera, sampai teknologi satelit dan media interaktif dalam pemberitaan (Westin, 1982; Stephens, 1986; Jacobs, 1990; Wallis & Baran, 1990). Jurnalisme televisi yang dijalankan oleh stasiun televisi sebagai media organik pemerintah, tentunya berbeda dengan jurnalisme televisi yang dijalankan oleh stasiun televisi swasta. Sementara televisi swasta baru muncul tahun 1989, dan jurnalisme televisi baru menggeliat mulai tahun 90-an ini (Goonasakera & Holaday, 1992). Terlepas dari trend dari jaman ke jaman. permasalahan jurnalisme televisi di Indonesia dapat dikembalikan ke akarnya. Bahwa jurnalisme adalah kaidah kerja dalam memungut fakta sosial untuk dijadikan informasi, untuk kemudian disampaikan melalui media massa.
Kaidah jurnalisme mengandung standar dalam memilih fakta sosial dan mewujudkan informasi. Ada kalanya kaidah kerja jurnalisme menyesuaikan diri dengan karakter media yang akan menjadi penyampainya. Penyesuaian ini pada dasarnya bukan dalam orientasi etis, tetapi hanya menyangkut aspek teknik (technicalities). Orientasi etis berkaitan dengan substansi informasi, sementara aspek teknik membawa implikasi kepada format informasi. Secara sederhana kedua hal ini, pertama menyangkut apa yang menjadi dasar bagi orang media dalam memilih fakta sosial. Inilah sesungguhnya yang ditangkap dan disimpan sebagai pengetahuan oleh khalayak. Sedangkan hal kedua, bagaimana informasi disajikan, merupakan pintu masuk dalam menikmati suatu informasi. Kedua hal ini sama pentingnya, dapat diibaratkan dengan makanan yang bermanfaat dan enak.
Kendati terdapat perbedaan karakter berbagai media massa, dari sisi wajahnya sebagai penyampai informasi jurnalisme, selama bertolak dari orientasi etisnya, pada dasarnya tidak ada perbedaan satu sama lain. Media penyiaran (broadcasting) radio dan televisi, media pers (cetak), bahkan media internet, sepanjang menggunakan orientasi etis dalam jurnalisme, memiliki kesamaan. Yang membedakan hanyalah format informasinya, yang dibentuk dengan kaidah teknis yang berbeda. Itulah sebabnya, media penyampai informasi jurnalisme atau informasi bersifat faktual, biasa pula disebut sebagai media jurnalisme, untuk dibedakan dari media hiburan yang berfungsi menyampaikan informasi hiburan yang bersifat fiksional.
Sejarah pertelevisian di Indonesia menunjukkan dinamika yang penuh dengan kecenderungan anomali. Karenanya sulit merumuskan teori yang jelas bagi penggambaran fenomena media ini. Siaran televisi sudah hadir sejak akhir tahun 1962, sebagai stasiun yang diselenggarakan oleh pemerintah, untuk menjalankan tugas utama sebagai media organik birokrasi pemerintah. Baru pada tahun 1989, muncul televisi dari swasta dengan beroperasinya Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Disusul dengan kehadiran tv swasta lainnya TPI,Sctv, Antv, Indosiar, Trans7, Transtv, Metrotv, Tvone dan Globaltv. Uniknya, masyarakat langsung menghadapi tvkomersial. Dimulai dengan sistem tertutup (berlangganan), sampai akhirnya penyiaran terbuka. Tentunya pemerintah punya alasan atas ketentuan pentahapan ini. Tetapi alas an ini pada dasarnya berdalih seolah untuk melindungi masyarakat dari terpaan stasiun tv swasta ini (Depari, 1994).

Tekhnik Produksi Berita Televisi

Jurnalistik televisi merupakan paduan media komunikasi gambar (visual) dan suara (audio). Karena medium komunikasinya adalah gambar dan suara, dengan sendirinya terdapat perbedaan yang cukup tajam antara jurnalistik media cetak (print media) dan jurnalistik media radio (audio). Secara umum perbedaan itu terdapat pada :
1. Cara-cara pengumpulan data (news gathering) media televisi harus selalu on the spot. No pictures, no news. Dalam hal tertentu words must less than pictures. Implikasinya adalah pada kesempatan atau mobilitas kru televisi harus lebih tinggi dari media jenis lainnya untuk menjamin keseketikaan sebuah berita disajikan kepada penonton.
2. Penggunaan bahasa yang berbeda. Media televisi selalu menggunakan bahasa tutur, bahas lisan dengan segala implikasinya. Ada ahli yang menyebutnya sebagai bahasa gambar. Para broadcaster harus paham benar bahwa mereka menulis berdasarkan gambar, write to pictures, atau bertutur tentang gambar. Dan, seperti yang sering terjadi, bukan menempelkan gambar pada kata-kata yang lebih dulu ditulis.
3. Jika dalam waktu 2-3 tahun ke depan insan-insan televisei belum bisa menghasilkan video jurnalis yang multi skill dapat dipastikan tuntutan kerja tim di televisi jauh lebih berat daripada tuntutan kerja tim di media cetak maupun radio. Setidaknya, untuk mengejar satu atau dua berita televisi masih menuntut kerjasama harmonis antara reporter-camera person-dan driver. Tidak terbayangkan jika salah satu di antara ketiganya macet, ngambek, terlambat atau terganggu soal-soal teknis lainnya. Jika dirangkai dengan proses kerja berikutnya, hingga sampai ke layer, dapat dibayangkan, salah satu kerumitan terbesar dalam kerja televisi adalah mengelola tim yang benar-benar efektif. Salah satu dalil kerja di televisi adalah keberhasilan mengelola persiapan tim sudah menjadi jaminan 70 persen sukses siaran berita televisi.

Secara umum mekanisme kerja di sebuah news room televise sama dengan isi mekanisme kerja di sebuah media cetak maupun radio. Dengan sedikit varian yang berbeda antara satu news room dari news room lainnya, rangkaian kerja di televisi meliputi tiga aktivitas pokok. Pertama, aktivitas news gathering. Kedua, aktivitas news production, dan ketiga, aktivitas news presenting.
Tidak perlu dijelaskan lagi secara panjang lebar disini mengenai proses news gathering televisi di sini karena para prinsipnya tidak ada perbedaan yang sangat mencolok dengan mekanisme news gathering media cetak maupun radio.
Hanya satu hal yang memang sangat perlu ditekankan bahwa dalam mekanisme news gathering televisi perencanaan yang dilakukan oleh para assignment editors agak berbeda dengan perencanaan yang dilakukan oleh para koordinator reporter media cetak maupun radio misalnya. Derivasi teknis yang sangat berbeda itu adalah bahwa ketika sebuah kru televise turun ke lapangan, assignment antara gambar dan berita haruslah sinkron. Ekstrimnya, seorang assisgment editor harus memerintahkan krunya lebih penting untuk segera mendapatkan gambar ketimbang talking newsnya. Karena itu pada ekstrim yang lain, ketika pulang dari lapangan, seorang produser/eksekutif produser televisi tidak akan menanyakan “berita apa yang akan dibawa oleh kru dari lapangan” tetapi “ gambar apa yang anda bawa dari lapangan ?” pertanyaan ini mengindikasikan betapa gambar jauh lebih penting nilainya bagi televisi daripada kata-kata. News Value Judgmentnya sangat tergantung pada seberapa penting, seberapa menarik, seberapa dramatis, dan seberapa kuatnya magnitude gambar yang diperoleh kru di lapangan. Itu pula yang menjelaskan mengapa sebuah atau beberapa berita yang tampak diutamakan penayangannya oleh Televisi belum tentu diutamakan oleh media cetak atau sebaliknya.
Hal yang karakteristik televisi adalah News Productionnya yang harus menggunakan bahasa tutur, bahasa gambar, menuliskan tentang gambar dan atau melaporkan tentang gambar. Tentu saja penggunaan bahasa tutur ini sangat banyak Implikasinya, terutama karena harus benar-benar Sinc (baca sinkron) antar gambar dan kata-kata dan atau kalimat. Karena itu, adalah kewajiban seorang produser atau Reporter untuk ‘meneliti’ atau ‘mempreview’ gambar terlebih dahulu sebelum menulis naskah: bukan sebaliknya menulus naskah dulu lalu ditempel-tempel gambar.

Struktur Penulisan Berita TV
Ada perbedaan besar antara menulis naskah berita untuk didengar (dengan telinga) dan menulis untuk dibaca (dengan mata). Narasi berita televisi yang baik memiliki awal (pembuka), pertengahan, dan akhir (penutup). Masing-masing bagian ini memiliki maksud tertentu.
1. Pembuka (Lead). Setiap naskah berita membutuhkan suatu pengait (hook) atau titik awal, yang memberikan fokus yang jelas kepada pemirsa. Awal dari tulisan memberitahu pemirsa tentang esensi atau pokok dari berita yang mau disampaikan. Hal ini memberi suatu fokus dan alasan pada pemirsa untuk tertarik dan mau menyimak berita yang akan disampaikan.
2. Pertengahan (Body). Karena semua rincian cerita tak bisa dijejalkan di kalimat-kalimat pertama, cerita dikembangkan di bagian pertengahan naskah. Bagian tengah ini memberi rincian dari Lead dan menjawab hal-hal yang ingin diketahui oleh pemirsa. Untuk memudahkan pemirsa dalam menangkap isi berita, sebaiknya kita membatasi diri pada dua atau tiga hal penting saja di bagian tengah ini.
3. Akhir (Ending). Jangan akhiri naskah berita tanpa kesimpulan. Rangkumlah dengan mengulang butir terpenting dari berita itu, manfaatnya bagi pemirsa, atau perkembangan peristiwa yang diharapkan akan terjadi.

Rumus 5 C untuk Penulisan Berita di Media TV:
Conversational:
Ketika menulis naskah berita untuk media televisi, kita menulis untuk didengar. Ingat, televisi adalah media audio-visual, bukan media cetak. Pemirsa kita melihat (gambar/visual) dan mendengar (suara/audio), bukan membaca naskah berita seperti membaca koran.
Kelemahan media televisi adalah berita yang ditayangkan di layar televisi umumnya hanya muncul satu kali. Jika pemirsa tidak bisa menangkap isi berita pada tayangan pertama, ia tak punya peluang untuk minta diulang. Oleh karena itu, berita di TV dibuat dengan gaya bahasa bertutur, seperti percakapan sehari-hari, karena ini adalah gaya bahasa yang paling akrab dan biasa didengar orang. Tulislah naskah berita seperti gaya orang berbicara.

Clear:
Batasi kalimat untuk satu gagasan saja. Hal ini akan memudahkan para pendengar untuk menangkap dan memahami isi berita. Jangan menggunakan bahasa jargon atau slang, yang hanya dikenal kalangan tertentu. Hindari susunan kalimat yang rumit. Atribusi untuk narasumber disampaikan lebih dulu sebelum pernyataannya, dan bukan sebaliknya. Hal ini untuk menghindarkan kebingungan di pihak pemirsa, dalam membedakan mana narasi dari si reporter dan mana opini dari si narasumber. Ini bertolak belakang dengan praktik yang biasa dilakukan di media cetak.

Concise:
Gunakan kalimat-kalimat yang bersifat pernyataan (deklaratif). Tulislah kalimat-kalimat yang pendek. Menurut hasil riset, kalimat pendek lebih mudah dipahami dan lebih kuat, ketimbang kalimat-kalimat panjang. Sebetulnya tidak ada aturan wajib tentang panjang kalimat yang dibolehkan. Namun, cobalah membatasi agar setiap kalimat yang Anda tulis tidak lebih dari 20 kata.

Compelling:
Tulislah dalam bentuk kalimat aktif. Para penulis berita menggunakan kalimat aktif karena lebih kuat dan lebih menarik. Selain itu, kalimat aktif juga lebih pendek daripada kalimat pasif.

Cliché free:
Kalimat atau pernyataan klise adalah pernyataan yang sudah terlalu sering digunakan di media. Pernyataan klise mungkin tidak akurat dan salah arah, namun harus diakui, banyak reporter merasa sulit menghindari pernyataan klise seperti ini. Contoh kalimat klise untuk penutup berita: “Kasus itu masih dalam penyelidikan.” Kalimat klise seperti ini bisa dibilang tidak memberi informasi tambahan apapun kepada pemirsa. Maka, kalimat klise ini sebaiknya diganti dengan yang lebih informatif. Misalnya: “Polisi sampai hari ini masih belum mengetahui penyebab kecelakaan. Polisi mengharapkan, hasil penyidikan akan dapat diungkapkan hari Jumat besok.

Referensi:
Baksin, Askurifai. 2006. Jurnalistik Televisi: Teori dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Harahap, Arifin S. 2006. Jurnalistik Televisi: Teknik Memburu dan Menulis Berita. Jakarta: PT. Indeks, Kelompok Gramedia.
Ishadi SK. 1999. Prospek Bisnis Informasi di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ishadi S. 1999. Dunia Penyiaran: Prospek dan Tantangannya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Wahyuni, Hermin Indah. 2000. Televisi dan Intervensi Negara: Konteks Politik Kebijakan Publik Industri Penyiaran Televisi. Yogyakarta: Penerbit Media Pressindo.
Oepen, Manfred, ed. 1988 : Media Rakyat: Komunikasi Pengembangan Masyarakat,
Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, Jakarta

Media dan Peran Strategis Gerakan Mahasiswa

Posted in Uncategorized on 12/15/2009 by khimawans

Mobilisasi pergerakan mahasiswa setiap dekade zaman dilekati karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda. Terlihat pada masing-masing zaman menampilkan figur, isu, dan problem yang berbeda. Menggali alasan lain penyebab tumbuhnya kepekaan mahasiswa terhadap persoalan yang bertitik fokus pada perjuangan membela kepentingan rakyat. Menurut Arbi Sanit (1985) lima hal yang melatar belakanginya. Pertama, mahasiswa sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik memiliki persepektif atau pandangan yang cukup luas untuk dapat bergerak di semua lapisan masyarakat. Kedua, mahasiswa sebagai golongan yang cukup lama bergelut dengan dunia akademis dan telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara generasi muda.
Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik di kalangan mahasiswa, dan terjadi akulturasi sosial budaya tinggi di antara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasan, struktur ekonomi, dan memiliki keistimewaan tertentu dalam masyarakat sebagai kelompok elit di kalangan kaum muda. Kelima, mahasiswa rentan terlibat dalam pemikiran, perbincangan, dan penelitian pelbagai masalah yang timbul di tengah kerumunan masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier sesuai dengan keahliannya.
Daya dobrak Gerakan mahasiswa 1998 yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru merupakan momen penting sebagai starting point dalam rangka menyelamatkan bangsa dalam kondisi sedang sekarat. Pada kenyataan, mahasiswa lengah dan membuang kesempatan tersebut. Kenyataannya saat ini ralita membahasakan ‘reformasi jalan ditempat’. Artinya, mahasiswa gagal dalam mengisi dan mengawal reformasi. Fenomena pergerakan melempemnya pergerakan mahasiswa pasca reformasi seolah kehingan roh merupakan rapor merah yang harus dihitamkan.
Terdapat beberapa akar penyebab gerakan mahasiswa pasca reformasi kehilangan vitalitas perjuangan. Menurut Dr. Alfian, dosen UI dan peneliti katalis menyebutkan bahwa salah satu penyebab terjadinya problema dalam pergerakan mahasiswa adalah ;
1. Tterjadinya fragmentasi (perpecahan) intern dalam gerakan mahasiswa. fragmentasi lantaran prinsip ideologi yang menancap pada sekelompok mahasiswa yang condong mengarah pada “perbedaan Idealisme” sehingga mengerucut menjadi perpecahan dalam pergerakan.
2. muncul kelompok mahasiswa oportunis, sehingga posisi mahasiswa dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok/individu tertentu. Gejala ini, terlihat pada isu terbaru yang mengatakan gerakan mahasiswa —antimiliterisme, anti Orde Baru, anti pelanggar HAM atau anti yang lainnya — ditunggangi kelompok tertentu. Padahal gerakan mahasiswa harus independen dan kudu konsisten dengan gerakan moral. Perihal inilah, membuat lemahnya pergerakan mahasiswa hari ini.
3. apatisme kebanyakkan mahasiswa akan posisi dan peranya sebagai agent of change (agen perubah), moral force (kekuatan moral) dan iron stock (perangkat keras) suatu bangsa. Di tambah dengan sekelompok Mahasiswa melakukan pergerakan cenderung atas dasar kepentingan tertentu saja, problema ini membuat gerakan mahasiswa kehilangan roh dan mengalami dekadensi eksistensi di tengah masyarakat.
Pandangan miring terlihat dari pernyataan Misbah Shoim Haris (1997) dikutip dalam bukunya. “Namun, selama ini yang kita lihat, realitas tidaklah seindah bayangan (idealisme) kita. Masih terlalu banyak mahasiswa yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tanggung jawabnya sebagai pengemban rakyat. Pandangan tersebut, tentunya berimplikasi pada posisi dan peran mahasiswa, sehingga eksistensi mahasiswa di mata masyarakat memudar.”

Rekonstruksi Soliditas Gerakan Mahasiswa
Mengutip pepatah para ilmuwan francis La Historie Se Pete ( sejarah akan selalu berulang), mengoptimisisasi akan kembalinya roh pergerakan mahasiswa sebagaimana gerakan mahasiswa dekade sebelumnya . Adapaun lampu hijau yang harus ditempuh.
1. Membudayakan pemahaman sisi persamaan perjuangan dengan menerapkan sikap toleransi dalam perbedaan.
2. Menjalin komunikasi antar sesama kelompok mahasiswa.
3. Meruntuhkan sikap saling curiga, dengki serta menepis jauh-jauh sikap high egoisme yang rentan menghinggapi mahasiswa.
4. Mengikis infantilisme (kekanak-kanakan) mahasiswa.
5. Membangun indepedensi pergerakan mahasiswa. Mengingat, mahasiswa adalah kelompok sejati, abadi, dan berada di barisan terdepan dalam jajaran generasi muda. keenam, membangun sikap kritis dan arif dalam memandang suatu permasalahan.
Mengevaluasi format pergerakan mahasiswa selama ini, cendrung stagnan, vakum dan mengalami fragmentasi. The big work (pekerjaan besar) mahasiswa hari ini adalah merekonstruksi soliditas pergerakan, memulai gerakan yang lebih sistematis dengan menepis fragmentasi wacana, menghindari fragmentasi gerakan, menuju sinergitas bersama. Sekaligus mengawasi dan mempresure siapa pun pemimpin bangsa Indenesia agar merealisasi enam visi reformasi yang pernah ditawarkan mahasiswa. Sebagai pertanggungjawaban mahasiswa yang telah berani memulai ‘Reformasi 1998’.

Peranan Strategis Media
Peran media dalam pembentukan opini semakin masif dalam beberapa dekade terakhir. Semakin pentingnya peran media dalam pembentukan opini publik tidak terlepas dari pesatnya peningkatan teknologi informasi dan komunikasi. Jika pada 10 tahun sebelumnya seseorang masih sulit untuk dapat mengakses internet, namun hari ini setiap orang dapat mengakses internet secara mobile. Jika 10 tahun sebelumnya jumlah stasiun televisi sangat terbatas, namun hari ini jumlah stasiun televisi semakin banyak dan dengan tingkat coverage yang lebih luas. Bahkan, hari ini kita dapat mengakses jaringan internasional, sesuatu yang mustahil dilakukan pada beberapa tahun yang lalu.
Walaupun tidak semasif beberapa tahun terakhir, media di masa lalu juga memiliki peran yang besar dalam membentuk opini publik. Contohnya adalah bagaimana publik melihat Sukarno sebagai seorang pemimpin besar Indonesia. Lewat radio pada saat itu, Sukarno berhasil membangun citra pemimpin kharismatik di masyarakat Indonesia, walaupun sebagian masyarakat mengetahui bahwa dalam praktek Sukarno adalah pemimpin yang otoriter. Namun sekali lagi, peran media telah menggeser opini publik terhadap citra Sukarno dari seorang pemimpin diktator menjadi pemimpin yang kharismatik dan dibanggakan oleh masyarakat Indonesia.
Peranan media masa tersebut tentunya tidak dapat dilepaskan dari arti keberadaan media itu sendiri. Marshall McLuhan, seorang sosiolog Kanada mengatakan bahwa ”media is the extension of men”. Pada awalnya, ketika teknologi masih terbatas maka seseorang harus melakukan komunikasi secara langsung. Tetapi, seiring dengan peningkatan teknologi, maka media massa menjadi sarana dalam memberikan informasi, serta melaksanakan komunikasi dan dialog. Secara tidak langsung, dengan makna keberadaan media itu sendiri, maka media menjadi sarana dalam upaya perluasan ide-ide, gagasan-gagasan dan pemikiran terhadap kenyataan sosial (Dedy Jamaludi Malik, 2001: 23)
Dengan peran tersebut, media massa menjadi sebuah agen dalam membentuk citra di masyarakat. Pemberitaan di media massa sangat terkait dengan pembentukan citra, karena pada dasarnya komunikasi itu proses interaksi sosial, yang digunakan untuk menyusun makna yang membentuk citra tersendiri mengenai dunia dan bertukar citra melalui simbol-simbol (Nimmo, 1999). Dalam konteks tersebut, media memainkan peranan penting untuk konstruksi realitas sosial.
Berbagai contoh seperti pencitraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2004, dan kemenangan kedua kalinya pada piplres 2009 kemarin. kasus Manohara yang mengkonstruksi opini masyarakat bahwa dia sebagai orang yang perlu dilindungi. Begitupun citra terhadap KPK sebagai institusi pemberantasan korupsi; tidak dapat dilepaskan dari peran media dalam membentuk opini publik. Bagaimana dahsyatnya kasus dugaan kriminalisasi kedua pimpinan KPK Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah vs Anggodo, yang kemudian merembet pada kasus dugaan korupsi penggelontoran dana senilai 6,7 triliun rupiah bank Century yang disinyalir melibatkan pejabat tinggi negara. Serta terakhir soal kasus hukum Prita Mulysari yang disimbolkan perlawanan ketidakadilan terhadap penegakkan hukum yang disimbolkan sebagai pihak yang teraniaya.
Dari rentetan kasus ini, perlu disadari bahwa pembentukan opini publik tidak sepenuhnya menjadi monopoli media massa. Elemen masyarakat termasuk di dalamnya mahasiswa juga memiliki peran dalam mencerna informasi yang didapat dari media. Dalam hal itu, maka faktor relativisme budaya masyarakat menjadi hal yang penting dalam proses pembenttukan sebuah opini publik. Dengan perannya yang sangat besar dalam pembentukan opini publik, maka sudah sejatinya gerakan mahasiswa dapat memanfaatkan keran-keran media massa dalam melakukan adovokasi kebijakan publik.
Penyebaran diskursus-diskursus dalam public sphare inilah yang seharusnya lebih dimaksimalkan oleh gerakan mahasiswa agar gerakan mahasiswa lebih efektif dalam mencapai tujuan-tujuan gerakannya. Seperti kita ketahui, media adalah suatu ‘alat’ yang menghubungkan kita dengan dunia luar. Tanpa media, kita akan sulit mengetahui apa yang terjadi di sekeliling kita. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa media adalah sumber informasi utama bagi semua orang di dunia.
Selama ini gerakan mahasiswa terjabak dalam citraan-citraan yang sudah tertanam dalam benak mahasiswa sendiri. Mahasiswa selalu dicitrakan sebagai individu-individu yang idealis. Mahasiswa juga disebut-sebut sebagai penyambung lidah rakyat, mahasiswa yang lebih baik hidup terasingkan dalam ruang kelas yang sempit dari pada menyerah pada kemunafikan. Gerakan mahasiswa selalu mewakili citraan-citraan diatas dengan cara-cara yang terkesan heroic dan bersemangat.
Pola yang diambil gerakan mahasiswa pun cenderung frontal dan menafikan pola-pola yang lebih elegan. Ada kesan dalam mahasiswa bahwa bila tidak melakukan aksi turun ke jalan, demonstrasi, dan mimbar bebas, maka suara mereka tidak akan didengar oleh pemerintah. Pola extra parliamentary menjadi pilihan yang paling disukai oleh mahasiswa. Mahasiswa perlu menyusun kembali landasan bagi pergerakannya. Gerakan mahasiswa jangan hanya menjadi suatu nuansa yang simbolik, tetapi harus bisa menjadi suatu gerakan yang bermanfaat bagi tiga unsur, yaitu :
1. Gerakan mahasiswa bermanfaat bagi bangsa dan negara
2. Gerakan mahasiswa bermanfat bagi masyarakat
3 Gerakan mahasiswa bermanfaat bagi dirinya sendiri.

Partisipasi adalah sebuah keniscayaan dalam merubah pernyataan turunnya efektifitas pergerakan mahasiswa. Kini sudah saatnya tidak hanya mahasiswa yang bergerak di wilayah eksekutif saja seperti BEM atau organisasi ekstra kampus saja yang bisa menjadi kontrol sosial bagi fakultas, universitas, maupun pemerintah, tetapi saatnya untuk semua civitas akademika (mahasiswa) kembali sadar bahwa CITA-CITA PERGERAKAN MAHASISWA HARUS DITERUSKAN

WAHAI KALIAN YANG RINDU KEMENANGAN ………..
WAHAI KALIAN YANG TURUN KE JALAN ……………..
DEMI MEMPERSEMBAHKAN JIWA DAN RAGA ………..
UNTUK NEGERI TERCINTA ………… *)

Penulis Praktisi Media, Jurnalis Trans7 dan
pernah menjadi Presiden BEM STAIN Cirebon
*)disarikan dari berbagai sumber referensi

Eksotika Seren Taun Cigugur

Posted in Uncategorized on 02/21/2009 by khimawans

Puncak sebuah tradisi tahunan masyarakat agraris sunda, digelar di sebuah desa bernama cigugur, di kaki gunung ciremai. Tradisi bernama seren taun ini, bagian dari ritual kolosal masyarakat adat sunda, sebagai rasa syukur atas hasil tanam. Upacara ini tergolong peristiwa langka, unik, indah, dan sacral. Tidak jauh berbeda dengan upacara-upacara keagamaan di pulau bali, Atau yang biasa dilakukan para petani di beberapa daerah di Indonesia seperti garut, sukabumi dan bogor.

Bagi masyarakat adat Karuhun Urang Cigugur, Seren Taun merupakan Gelar Budaya Tradisional Masyarakat Agraris Sunda sebagai wujud luapan rasa syukur kepada Tuhan. Itu diartikan juga sebagai upacara penyerahan hasil panen yang baru diraih dan memohon kebaikan untuk tahun selanjutnya.

Ribuan warga hadir, turut dalam upacara yang bertepatan dengan 22 rayagung ini. Tarian kendi, yang dibawakan oleh para penari dari sanggar tri mulya, membuka acara sekaligus sebagai prosesi penyambutan kepada para tamu undangan. Upacara diikuti
oleh muda-mudi, serta warga masyarakat desa cigugur dengan penuh sukacita. Tak jarang, budayawan, pemerhati sosial dan tokoh nasional, hadir untuk mengikuti upacara ini.

Upacara ini didahului dengan tari buyung, yang dilakukan oleh puluhan mojang sunda, bergerak lembut dengan buyung atau kendi ari diatas kepala. mengingatkan pada cerita lelakon sunda dikala datangnya bulan purnama. Mengilhami karya cipta tari yang mengisahkan gadis desa yang turun mandi, mengambil air dipancuran cihereng dengan menggunakan buyung.

Kemudian dilanjutkan dengan pagelaran seni jentreng, dengan dua buah alat kesenian berupa kecapi dan gendang, yang ditabuh berkeliling tugu paseban sampai 22 kali. Bunyi kentongan yang ditabuh bersahut-sahut pertanda keluarnya rombongan para petani dengan membawa hasil panennya masing-masing. Seperti padi, berbagai macam buah, dan berbagai makanan sesaji yang digotong dengan menggunakan tandu.

Bait penuh makna yang dilantunkan pemimpin upacara, dan iringan gamelan renteng, berisi tembang sanjungan lagu papalayon dan babarit kepada karuhun atau nenek moyang. Lantunan ini menambah sakral upacara yang dipusatkan di halaman pendopo tri panca tunggal, yang didirikan tahun 1840. Dimulai dengan Iring-iringan formasi empat penjuru, terdiri dari barisan lulugu, yakni dua orang gadis muda belia yang membawa padi, buah-buahan, umbi-umbian dan hasil bumi lainnya.

Barisan ini dikawal oleh seorang pemuda, dengan membawa payung janur bersusun tiga. Disusul barisan berikutnya, sebelas gadis belia membawa padi yang masing-masing dipayungi oleh para pemuda. Rombongan berikutnya, kalangan ibu-ibu, membawa ikatan padi yang disunggi di atas kepala, atau menurut masyarakat setempat disebut nyuhun. Terakhir rombongan bapak-bapak paruh baya, yang memikul padi dengan rengkong sambil digoyang-goyangka sesuai irama.

Semuanya mengandung makna rasa syukur dan kegembiraan bagi masyarakat cigugur. Seluruh hasil tani disuhun, mengelilingi tugu sebanyak 22 kali, tepat didepan paseban tri panca tunggal. Barulah secara bergiliran, iring-iringan memasuki bagian atas pendopo. Seluruh hasil panen yang diarak, kemudian disimpan disebuah tempat yang bernama leuit. sementara sebagian lagi di dibawa ke lumbung untuk ditumbuk.

Setelah seluruh warga cigugur dan pendatang berkumpul, barulah upacara tumbuk padi segera dimulai. Upacara penumbukan padi dipimpin ketua yayasan tri mulya pangeran jatikusuma disusul pejabat setempat dan tamu kehormatan. Dilanjutkan terus menerus secara berantai tanpa henti oleh ribuan warga, di pelataran lumbung agung. Tak hanya warga cigugur / pendatang dari semua kalangan baik tua, muda bahkan anak-anak turut memegang alu dan meumbuk padi secara bergantian.

Menumbuk padi beramai-ramai ini dilakukan hingga padi berubah menjadi beras, yang
selanjutnya dapat dikonsumsi masyarakat. Hentakan alu saat menumbuk padi, menghasilkan suara yang khas saling bersahutan satu sama lain dan tak pernah terputus. Sebuah interaksi simbolik yang mampu mempersatukan masyarakat ditengah keberagaman.

Selama prosesi penumbukan lagu sisir sunda terus menerus dilantunkan. Tradisi ini membuat kedekatan semua lapisan masyarakat dan terlihat harmonis. Melalui seren taun inilah, masyarakat petani di kawasan cigugur dan sekitarnya, menyampaikan rasa syukurnya kepada tuhan yang maha esa…..

Tanggal 22 Rayagung waktu penumbukan padi, bukan dipilih tanpa makna. Bilangan 22 terdiri dari 20 dan 2 memiliki arti karena padi yang ditumbuk pada puncak acara sebanyak 22 kwintal, dengan pembagian duapuluh kwintal untuk ditumbuk, dan dua kwintal lagi digunakan sebagai benih.

Angka 22 juga menggambarkan badan jasmani yang secara anatomis dianggap menyatukan organ-organ dan sel-sel dengan fungsi yang beraneka ragam. Mengacu pada sikap dasar kesatuan yang sudah menjadi hukum adikodrati, unsure yang berpasangan seperti adanya siang dan malam suka dan duka , susah dan bahagia, termasuk pria dan wanita.

Sambil menunggu giliran menumbuk padi sebagian warga berdesakan untuk mendapatkan nasi bogana yang sebelumnya diarak. Bogana berarti nasi yang berasal dari hasil penen petani warga cigugur. Bagi warga menyantap nasi berwarna kuning dengan lauk pauk khas sunda menjadi keistimewaan sendiri dalam mengikuti upacara adat seren taun. kha

Ngarot, Ajang Uji Kegadisan

Posted in Uncategorized on 02/10/2009 by khimawans

Ngarot, Ajang Uji Kegadisan

Indramayu dikenal sebagai lumbung padi. Mengingat lebih dari separuh luas wilayahnya merupakan areal persawahan. Musim panen dan masa tanam menjadi penting bagi petani untuk menyampaikan rasa syukur kepada sang pencipta.
Wilayah agraris pesisir pantai seperti desa lela, menyimpan banyak pesona. Selain memiliki keindahan alam dan keramahtamahan warganya, desa berjarak 25 km dari pusat kota ini masih melestarikan tradisi adat mereka.
Upacara adat ngarot adalah salah satu pesta rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, mulai dari abad 16 masehi. Sampai saat ini masih diselenggarakan oleh masyarakat desa lelea, menjelang penggarapan sawah. Ngarot atau kasinoman dilaksanakan setiap hari rabu, minggu keempat setia tahunnya. Peserta ngarot adalah para muda-mudi dengan kostum yang khas, dan aksesoris yang gemerlap menjadi daya tarik tersendiri.
Ratusan gadis belia yang biasa disebut nonoman, di Desa ini tengah mempersipkan diri untuk mengikuti pesta ngarot, sejak pagi-pagi buta. Orang tua mereka sibuk menyiapkan pakaian ngarot, berupa kebaya putih dan balutan kain batik bercorak kecokelatan. Termasuk hiasan aneka bunga warna-warni, untuk digunakan diatas kepala. Para orang tua, merias wajah anak gadisnya agar lebih cantik dan menawan. Tak ketinggalan, para perjaka turut mengenakan baju warna kuning dan celana kombrang. Gadis-gadis desa ini dihias secantik mungkin, seperti pengantin oleh orang tua mereka dan sesepuh desa.
Diiringi keluarga dan kerabat serta tetangga, mereka beranjak ke rumah kepala desa. Disinilah mereka meminta restu dan mendaulat kepala desa untuk memandu upacara ngarot. Sementara, kalangan pemudanya dengan berpakaian rapih, bak menjadi seorang calon pengantin, dihibur dengan alunan musik dermayon. Brisan arak-arakan pun dimulai. Kepala desa beserta istrinya, dibarisan paling depan mengawal gadis-gadis ini. Mereka akan mengikuti tradisi ngarot. Yaitu tradisi pesta awal tanam padi bagi muda-mudi di wilayah lelea indramayu.
Anak-anak muda yang sudah akil balig, oleh orang tua mereka biasanya diwajibkan mengikuti tradisi ini. Mereka mulai diarak keliling desa disaksikan ribuan pasang mata. Dibelakang mereka, iringan musik dermayon melengkapi kemeriahan arak-arakan. Para ibu-ibu enggan lepas mendampingi anak-anak gadisnya, seolah khawatir anaknya akan hilang di tengah arak-arakan. Konon, ngarot sudah diawali sejak tahun 1686 oleh kuwu lelea pertama bernama canggara wirana. Ngarot yang menurut bahasa sunda berarti nginum, tidak lain adalah pesta mayoran/menikmati sajian hasil panen di kantor desa.
Tradisi seperti ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, atas keberhasilan masyarakat lelea dalam bercocok tanam. Digelarnya acara ini, untuk member motivasi bagi para petani agar lebih giat bekerja di musim tanam berikutnya. Di masa lalu, ngarot menjadi ajang pembangkit semangat petani menghadapi kerja keras di saat masa tanam padi. Tetapi kini ngarot sebatas mengurangi kepenatan, menghadapi hari-hari yang sulit menjelang masa tanam padi.

Ekspedisi Kampung Naga

Posted in Uncategorized on 01/17/2009 by khimawans

Ekspedisi Kampung Naga

Posted in Uncategorized on 11/29/2008 by khimawans

Ekspedisi Kampung Naga

Dari kejauhan diatas bukit berjarak satu kilometer, diapit hutan, area persawahan dan sungai, terlihat perkampungan kecil yang masih asri, mengingatkan kita pada cerita-cerita jaman kerajaan sunda. Kampung Naga, inilah nama perkampungan yang terletak didaerah Neglasari Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Di kampung yang terdiri dari 110 rumah, sediktnya 235 jiwa hidup dengan rukun, damai, kekeluargaan dan saling menghormati, serta menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma adat istiadat warisan nenek moyang, yang konon berasal dari keturunan “Eyang Singaprna yang juga dikenal Sembah Dalem Singaparna.

Untuk mencapai perkampungan yang pada tahun 90an ditetapkan sebagai kawasan wisata ini, kami harus menempuh jarak lebih dari satu kilometer, dengan berjalan kaki, menuruni sedikitnya 351 anak tangga, yang berbelok. Menyisiri jembatan kayu dan jalan setapak disepanjang sungai Ciwulan yang diapit area persawahan. Suasana sejuk dan hawa dingin terasa saat dari dekat terlihat deretan rumah panggung yang tertata rapih. Setelah lebih dari setengah jam berjalan, barulah tiba dipintu gerbang Kampung Naga, yang dikelilingi dengan pagar anyaman yang oleh masyarakat sini disebut Kandang Jaga. Kandang Jaga ini terpasang mengelilingi kampung, layaknya garis batas wilayah pemukiman warga kampung ini.

Salah seorang warga yang sejak tadi menjadi guide perjalanan kami, menunjukkan sambil mempersilahkan kami melangkah lebih dulu. Sesaat menginjakkan kaki di perkampungan ini, kami sempat terpaku melihat suasana kampung yang jauh dari hangar bingar kehidupan kota, udara segar terasa sejuk menghilangkan lelah dan dahaga setelah berjalan hampir setengah jam. Suara kokok ayam dan kesibukan warga membuat kami terdiam beberapa saat. Perkampungan ini sesungguhnya bukan terisolasi seperti anggapan orang luar, justru Kampung Naga hidup dengan penuh kearifan, berdiri sendiri mempertahankan kekuatan dan kekayaan adat istiadat warisan leluhur. Hidup bersahaja, ditengah lingkungan tradisional dengan suasana kebersamaan yang sangat kental.

Selanjutnya, kami dipertemukan dengan sesepuh Kampung Naga dan salah seorang perangkat Rukun Tetangga. Sambutan yang hangat penuh kekeluargaan, membaut kami semakin diliputi rasa penasaran sesekali terbersit pertanyaan ada apa sesungunhnya di kampung ini ?. Sejumlah warga, anak-anak dan orang tua, terlihat asyik dengan aktifitasnya masing-masing, tanpa merasa aneh dengan kehadiran kami, sebelum akhirnya kami beranjak memasuki salah satu bangunan dari puluhan bangunan lainnya, yang hampir memiliki kesamaan bentuk terbuat dari bahan kayu dan bambu

KRIMINALISASI PERS

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , on 11/02/2008 by khimawans

KRIMINALISASI PERS

Jakarta – Wartawan Makassar, Upi Asmaradhana, membantah melakukan pencemaran nama baik Kapolda Sulselbar Irjen Pol Sisno Adiwinoto. Menurut Upi, apa yang dilakukannya semata-mata agar pejabat publik tidak mudah melakukan kriminalisasi pers.

“Saya tidak menghasut, juga tidak mencemarkan nama baik. Kapolda itu kan pejabat publik,” bantah Upi ketika dihubungi detikcom via telepon, Rabu (12/11/2008)
Menurut Upi, seharusnya setiap sengketa pers diselesaikan dengan UU Pers No 40/1999, dengan penggunaan hak jawab, atau mengadu ke dewan pers. “Namun dalam keterangan Kapolda di media Makassar, wartawan bisa langsung dipidanakan tanpa menggunakan hak jawab. Itu sama saja mengajak orang lain untuk melakukan kriminalisasi terhadap pers,” terang Upi.
Kasus ini bermula saat Upi mengumpulkan tanda tangan yang mengecam komentar Sisno dalam Jambore Pers, Juli lalu. Sisno mengatakan, jika ada pihak yang dirugikan dalam pemberitaan media, maka jurnalis bisa langsung dipidanakan tanpa menggunakan hak jawab.
Akibat aksinya, aktivis Koalisi Wartawan Tolak Kriminalisi Pers di Makassar ini langsung diperiksa oleh Kapolda Sulsel. Upi bahkan kemudian ditetapkan sebagai tersangka.
Penetapan Upi sebagai tersangka tertuang dalam surat panggilan terhadap Upi untuk menjalani pemeriksaan di Mapolda Sulselbar pada 13 November 2008.
“Sebagai warga yang taat hukum, saya akan mengikuti proses hukum yang telah ditetapkan kepolisian. Meskipun kami prinsip imparsilal dan proporsional terkesan tak terpenuhi,” ujar Upi.