Jurnalisme televisi yang berkembang sejak tahun 40-an hingga menjelang akhir abad ini, menyimpan banyak cerita. Mulai dari semacam jurnalisme radio yang ditampilkan di bawah lampu terang dan kamera, sampai teknologi satelit dan media interaktif dalam pemberitaan (Westin, 1982; Stephens, 1986; Jacobs, 1990; Wallis & Baran, 1990). Jurnalisme televisi yang dijalankan oleh stasiun televisi sebagai media organik pemerintah, tentunya berbeda dengan jurnalisme televisi yang dijalankan oleh stasiun televisi swasta. Sementara televisi swasta baru muncul tahun 1989, dan jurnalisme televisi baru menggeliat mulai tahun 90-an ini (Goonasakera & Holaday, 1992). Terlepas dari trend dari jaman ke jaman. permasalahan jurnalisme televisi di Indonesia dapat dikembalikan ke akarnya. Bahwa jurnalisme adalah kaidah kerja dalam memungut fakta sosial untuk dijadikan informasi, untuk kemudian disampaikan melalui media massa.
Kaidah jurnalisme mengandung standar dalam memilih fakta sosial dan mewujudkan informasi. Ada kalanya kaidah kerja jurnalisme menyesuaikan diri dengan karakter media yang akan menjadi penyampainya. Penyesuaian ini pada dasarnya bukan dalam orientasi etis, tetapi hanya menyangkut aspek teknik (technicalities). Orientasi etis berkaitan dengan substansi informasi, sementara aspek teknik membawa implikasi kepada format informasi. Secara sederhana kedua hal ini, pertama menyangkut apa yang menjadi dasar bagi orang media dalam memilih fakta sosial. Inilah sesungguhnya yang ditangkap dan disimpan sebagai pengetahuan oleh khalayak. Sedangkan hal kedua, bagaimana informasi disajikan, merupakan pintu masuk dalam menikmati suatu informasi. Kedua hal ini sama pentingnya, dapat diibaratkan dengan makanan yang bermanfaat dan enak.
Kendati terdapat perbedaan karakter berbagai media massa, dari sisi wajahnya sebagai penyampai informasi jurnalisme, selama bertolak dari orientasi etisnya, pada dasarnya tidak ada perbedaan satu sama lain. Media penyiaran (broadcasting) radio dan televisi, media pers (cetak), bahkan media internet, sepanjang menggunakan orientasi etis dalam jurnalisme, memiliki kesamaan. Yang membedakan hanyalah format informasinya, yang dibentuk dengan kaidah teknis yang berbeda. Itulah sebabnya, media penyampai informasi jurnalisme atau informasi bersifat faktual, biasa pula disebut sebagai media jurnalisme, untuk dibedakan dari media hiburan yang berfungsi menyampaikan informasi hiburan yang bersifat fiksional.
Sejarah pertelevisian di Indonesia menunjukkan dinamika yang penuh dengan kecenderungan anomali. Karenanya sulit merumuskan teori yang jelas bagi penggambaran fenomena media ini. Siaran televisi sudah hadir sejak akhir tahun 1962, sebagai stasiun yang diselenggarakan oleh pemerintah, untuk menjalankan tugas utama sebagai media organik birokrasi pemerintah. Baru pada tahun 1989, muncul televisi dari swasta dengan beroperasinya Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Disusul dengan kehadiran tv swasta lainnya TPI,Sctv, Antv, Indosiar, Trans7, Transtv, Metrotv, Tvone dan Globaltv. Uniknya, masyarakat langsung menghadapi tvkomersial. Dimulai dengan sistem tertutup (berlangganan), sampai akhirnya penyiaran terbuka. Tentunya pemerintah punya alasan atas ketentuan pentahapan ini. Tetapi alas an ini pada dasarnya berdalih seolah untuk melindungi masyarakat dari terpaan stasiun tv swasta ini (Depari, 1994).
Tekhnik Produksi Berita Televisi
Jurnalistik televisi merupakan paduan media komunikasi gambar (visual) dan suara (audio). Karena medium komunikasinya adalah gambar dan suara, dengan sendirinya terdapat perbedaan yang cukup tajam antara jurnalistik media cetak (print media) dan jurnalistik media radio (audio). Secara umum perbedaan itu terdapat pada :
1. Cara-cara pengumpulan data (news gathering) media televisi harus selalu on the spot. No pictures, no news. Dalam hal tertentu words must less than pictures. Implikasinya adalah pada kesempatan atau mobilitas kru televisi harus lebih tinggi dari media jenis lainnya untuk menjamin keseketikaan sebuah berita disajikan kepada penonton.
2. Penggunaan bahasa yang berbeda. Media televisi selalu menggunakan bahasa tutur, bahas lisan dengan segala implikasinya. Ada ahli yang menyebutnya sebagai bahasa gambar. Para broadcaster harus paham benar bahwa mereka menulis berdasarkan gambar, write to pictures, atau bertutur tentang gambar. Dan, seperti yang sering terjadi, bukan menempelkan gambar pada kata-kata yang lebih dulu ditulis.
3. Jika dalam waktu 2-3 tahun ke depan insan-insan televisei belum bisa menghasilkan video jurnalis yang multi skill dapat dipastikan tuntutan kerja tim di televisi jauh lebih berat daripada tuntutan kerja tim di media cetak maupun radio. Setidaknya, untuk mengejar satu atau dua berita televisi masih menuntut kerjasama harmonis antara reporter-camera person-dan driver. Tidak terbayangkan jika salah satu di antara ketiganya macet, ngambek, terlambat atau terganggu soal-soal teknis lainnya. Jika dirangkai dengan proses kerja berikutnya, hingga sampai ke layer, dapat dibayangkan, salah satu kerumitan terbesar dalam kerja televisi adalah mengelola tim yang benar-benar efektif. Salah satu dalil kerja di televisi adalah keberhasilan mengelola persiapan tim sudah menjadi jaminan 70 persen sukses siaran berita televisi.
Secara umum mekanisme kerja di sebuah news room televise sama dengan isi mekanisme kerja di sebuah media cetak maupun radio. Dengan sedikit varian yang berbeda antara satu news room dari news room lainnya, rangkaian kerja di televisi meliputi tiga aktivitas pokok. Pertama, aktivitas news gathering. Kedua, aktivitas news production, dan ketiga, aktivitas news presenting.
Tidak perlu dijelaskan lagi secara panjang lebar disini mengenai proses news gathering televisi di sini karena para prinsipnya tidak ada perbedaan yang sangat mencolok dengan mekanisme news gathering media cetak maupun radio.
Hanya satu hal yang memang sangat perlu ditekankan bahwa dalam mekanisme news gathering televisi perencanaan yang dilakukan oleh para assignment editors agak berbeda dengan perencanaan yang dilakukan oleh para koordinator reporter media cetak maupun radio misalnya. Derivasi teknis yang sangat berbeda itu adalah bahwa ketika sebuah kru televise turun ke lapangan, assignment antara gambar dan berita haruslah sinkron. Ekstrimnya, seorang assisgment editor harus memerintahkan krunya lebih penting untuk segera mendapatkan gambar ketimbang talking newsnya. Karena itu pada ekstrim yang lain, ketika pulang dari lapangan, seorang produser/eksekutif produser televisi tidak akan menanyakan “berita apa yang akan dibawa oleh kru dari lapangan” tetapi “ gambar apa yang anda bawa dari lapangan ?” pertanyaan ini mengindikasikan betapa gambar jauh lebih penting nilainya bagi televisi daripada kata-kata. News Value Judgmentnya sangat tergantung pada seberapa penting, seberapa menarik, seberapa dramatis, dan seberapa kuatnya magnitude gambar yang diperoleh kru di lapangan. Itu pula yang menjelaskan mengapa sebuah atau beberapa berita yang tampak diutamakan penayangannya oleh Televisi belum tentu diutamakan oleh media cetak atau sebaliknya.
Hal yang karakteristik televisi adalah News Productionnya yang harus menggunakan bahasa tutur, bahasa gambar, menuliskan tentang gambar dan atau melaporkan tentang gambar. Tentu saja penggunaan bahasa tutur ini sangat banyak Implikasinya, terutama karena harus benar-benar Sinc (baca sinkron) antar gambar dan kata-kata dan atau kalimat. Karena itu, adalah kewajiban seorang produser atau Reporter untuk ‘meneliti’ atau ‘mempreview’ gambar terlebih dahulu sebelum menulis naskah: bukan sebaliknya menulus naskah dulu lalu ditempel-tempel gambar.
Struktur Penulisan Berita TV
Ada perbedaan besar antara menulis naskah berita untuk didengar (dengan telinga) dan menulis untuk dibaca (dengan mata). Narasi berita televisi yang baik memiliki awal (pembuka), pertengahan, dan akhir (penutup). Masing-masing bagian ini memiliki maksud tertentu.
1. Pembuka (Lead). Setiap naskah berita membutuhkan suatu pengait (hook) atau titik awal, yang memberikan fokus yang jelas kepada pemirsa. Awal dari tulisan memberitahu pemirsa tentang esensi atau pokok dari berita yang mau disampaikan. Hal ini memberi suatu fokus dan alasan pada pemirsa untuk tertarik dan mau menyimak berita yang akan disampaikan.
2. Pertengahan (Body). Karena semua rincian cerita tak bisa dijejalkan di kalimat-kalimat pertama, cerita dikembangkan di bagian pertengahan naskah. Bagian tengah ini memberi rincian dari Lead dan menjawab hal-hal yang ingin diketahui oleh pemirsa. Untuk memudahkan pemirsa dalam menangkap isi berita, sebaiknya kita membatasi diri pada dua atau tiga hal penting saja di bagian tengah ini.
3. Akhir (Ending). Jangan akhiri naskah berita tanpa kesimpulan. Rangkumlah dengan mengulang butir terpenting dari berita itu, manfaatnya bagi pemirsa, atau perkembangan peristiwa yang diharapkan akan terjadi.
Rumus 5 C untuk Penulisan Berita di Media TV:
Conversational:
Ketika menulis naskah berita untuk media televisi, kita menulis untuk didengar. Ingat, televisi adalah media audio-visual, bukan media cetak. Pemirsa kita melihat (gambar/visual) dan mendengar (suara/audio), bukan membaca naskah berita seperti membaca koran.
Kelemahan media televisi adalah berita yang ditayangkan di layar televisi umumnya hanya muncul satu kali. Jika pemirsa tidak bisa menangkap isi berita pada tayangan pertama, ia tak punya peluang untuk minta diulang. Oleh karena itu, berita di TV dibuat dengan gaya bahasa bertutur, seperti percakapan sehari-hari, karena ini adalah gaya bahasa yang paling akrab dan biasa didengar orang. Tulislah naskah berita seperti gaya orang berbicara.
Clear:
Batasi kalimat untuk satu gagasan saja. Hal ini akan memudahkan para pendengar untuk menangkap dan memahami isi berita. Jangan menggunakan bahasa jargon atau slang, yang hanya dikenal kalangan tertentu. Hindari susunan kalimat yang rumit. Atribusi untuk narasumber disampaikan lebih dulu sebelum pernyataannya, dan bukan sebaliknya. Hal ini untuk menghindarkan kebingungan di pihak pemirsa, dalam membedakan mana narasi dari si reporter dan mana opini dari si narasumber. Ini bertolak belakang dengan praktik yang biasa dilakukan di media cetak.
Concise:
Gunakan kalimat-kalimat yang bersifat pernyataan (deklaratif). Tulislah kalimat-kalimat yang pendek. Menurut hasil riset, kalimat pendek lebih mudah dipahami dan lebih kuat, ketimbang kalimat-kalimat panjang. Sebetulnya tidak ada aturan wajib tentang panjang kalimat yang dibolehkan. Namun, cobalah membatasi agar setiap kalimat yang Anda tulis tidak lebih dari 20 kata.
Compelling:
Tulislah dalam bentuk kalimat aktif. Para penulis berita menggunakan kalimat aktif karena lebih kuat dan lebih menarik. Selain itu, kalimat aktif juga lebih pendek daripada kalimat pasif.
Cliché free:
Kalimat atau pernyataan klise adalah pernyataan yang sudah terlalu sering digunakan di media. Pernyataan klise mungkin tidak akurat dan salah arah, namun harus diakui, banyak reporter merasa sulit menghindari pernyataan klise seperti ini. Contoh kalimat klise untuk penutup berita: “Kasus itu masih dalam penyelidikan.” Kalimat klise seperti ini bisa dibilang tidak memberi informasi tambahan apapun kepada pemirsa. Maka, kalimat klise ini sebaiknya diganti dengan yang lebih informatif. Misalnya: “Polisi sampai hari ini masih belum mengetahui penyebab kecelakaan. Polisi mengharapkan, hasil penyidikan akan dapat diungkapkan hari Jumat besok.
Referensi:
Baksin, Askurifai. 2006. Jurnalistik Televisi: Teori dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Harahap, Arifin S. 2006. Jurnalistik Televisi: Teknik Memburu dan Menulis Berita. Jakarta: PT. Indeks, Kelompok Gramedia.
Ishadi SK. 1999. Prospek Bisnis Informasi di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ishadi S. 1999. Dunia Penyiaran: Prospek dan Tantangannya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Wahyuni, Hermin Indah. 2000. Televisi dan Intervensi Negara: Konteks Politik Kebijakan Publik Industri Penyiaran Televisi. Yogyakarta: Penerbit Media Pressindo.
Oepen, Manfred, ed. 1988 : Media Rakyat: Komunikasi Pengembangan Masyarakat,
Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, Jakarta